Ramadhan dan Seni Menyederhanakan Hidup

Kategori : Ramadhan, Ditulis pada : 10 Februari 2026, 11:54:54

Rolla Ramadan.jpg

Sumber : Pinterest

Ramadhan hadir setiap tahun, namun tidak semua orang merasakannya dengan kedalaman yang sama. Ada yang menjalaninya sekadar sebagai rutinitas, ada pula yang menjadikannya ruang sunyi untuk berdialog dengan Allah. Di bulan inilah langit seakan lebih dekat, dan hati manusia lebih mudah tersentuh oleh kebaikan.

Allah SWT berfirman:

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.”
(QS. Al-Baqarah: 185)

Ramadhan bukan hanya tentang puasa, tetapi tentang petunjuk arah hidup yang diluruskan kembali.

Ketika Keheningan Menjadi Ibadah

Di luar Ramadhan, hidup sering dipenuhi kebisingan: ambisi, tuntutan, dan distraksi tanpa henti. Ramadhan datang membawa ritme berbeda. Waktu sahur, shalat malam, dan tilawah Al-Qur’an menciptakan ruang hening yang jarang ditemui di bulan lain.

Dalam keheningan itulah manusia belajar mendengar suara hatinya sendiri, menyadari kesalahan, dan merasakan kebutuhan untuk kembali kepada Allah.

Ramadhan Mengajarkan Kesederhanaan

Puasa membiasakan seseorang hidup dengan cukup. Makan seperlunya, tidur secukupnya, dan berbicara seperlunya. Dari sini tumbuh kesadaran bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari kelimpahan, melainkan dari rasa syukur.

Kesederhanaan ini menjadi pelajaran penting di tengah gaya hidup berlebihan yang kerap menjauhkan manusia dari makna hidup yang sebenarnya.

Pintu Ampunan yang Terbuka Lebar

Ramadhan juga dikenal sebagai bulan pengampunan. Bukan karena manusia menjadi sempurna, tetapi karena Allah membuka pintu rahmat-Nya seluas-luasnya bagi siapa pun yang ingin kembali.

Rasulullah SAW bersabda bahwa orang yang berpuasa dengan iman dan harapan pahala akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan adalah bulan harapan, bukan penghakiman.

Ramadhan dan Pembaruan Niat Hidup

Di bulan ini, banyak orang kembali menyusun niat ngin lebih sabar, lebih jujur, dan lebih dekat dengan Allah. Ramadhan menjadi titik reset bukan untuk menjadi manusia tanpa dosa, tetapi manusia yang terus berusaha memperbaiki diri.

Karena sejatinya, Ramadhan bukan tentang menjadi suci dalam sebulan, melainkan tentang menjaga cahaya itu tetap hidup setelah Ramadhan pergi.

Sumber : 

rri.co.id

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id