Perbedaan Awal Ramadhan 2026 Tak Perlu Diperdebatkan, Persatuan tetap Diutamakn

Kategori : Ramadhan, Ditulis pada : 18 Februari 2026, 09:37:37

download (15).jpg

Sumber : Pinterest

Dalam beberapa hari terakhir, umat Islam di Indonesia kembali menghadapi fenomena yang sering terjadi menjelang bulan suci Ramadhan: terjadinya perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan. Namun, baik pemerintah maupun tokoh-tokoh agama mengingatkan bahwa perbedaan ini bukan sesuatu yang perlu diperdebatkan secara tajam atau memecah persatuan umat.

Pemerintah Indonesia, melalui Sidang Idul Fitri atau Sidang Isbat yang digelar oleh Kementerian Agama (Kemenag), memutuskan bahwa 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Keputusan sidang ini diambil setelah mencermati hasil hisab dan laporan pemantauan hilal, yang menunjukkan bahwa hilal belum terlihat secara pasti pada tanggal yang diajukan sebelumnya.

Meski demikian, beberapa organisasi masyarakat Islam memiliki penetapan yang berbeda. Misalnya, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan awal puasa jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, berdasarkan metode hisab yang mereka gunakan yakni Kalender Hijriah Global Tunggal. Perbedaan ini mencerminkan adanya variasi dalam metodologi ilmiah dan ijtihad yang sah di antara para ulama.

Mengapa Bisa Berbeda?

Perbedaan tanggal ini bukan semata bentuk pertentangan, tetapi lebih karena perbedaan pendekatan dalam menentukan waktu awal bulan Hijriah:

  • Metode hisab perhitungan astronomis yang dilakukan menurut parameter tertentu seperti tinggi hilal dan sudut elongasi bulan.

  • Rukyatul hilal pengamatan langsung lapangan terhadap hilal oleh tim yang tersebar di sejumlah wilayah Indonesia, yang dipakai pemerintah dan beberapa ormas tradisional.

Perbedaan kriteria ini wajar terjadi karena dasar ilmu falak dan interpretasi para ahli berbeda. Itu pun bukan sesuatu yang baru atau unik di tahun ini saja perbedaan awal Ramadhan sudah pernah terjadi di tahun-tahun sebelumnya.

Sikap Pemerintah dan Tokoh Umat

Para pemimpin umat Islam dan pejabat pemerintah menekankan bahwa perbedaan penetapan awal Ramadhan tak harus diartikan sebagai konflik atau perpecahan:

  • Menteri Agama mengimbau agar umat Islam menyikapi perbedaan itu dengan bijak, tanpa saling menyalahkan atau menciptakan suasana negatif.

  • Ketua Komisi VIII DPR RI juga menyampaikan pesan senada bahwa perbedaan metode tidak semestinya membuat umat Islam “bercerai berai”.

  • Pimpinan Muhammadiyah pun turut mengajak umat untuk bersikap arif dan saling menghormati satu sama lain.

Antara Ijtihad dan Persatuan Umat

Para ulama sering mengingatkan bahwa ijtihad dalam menentukan awal Ramadhan merupakan bagian dari tradisi keilmuan Islam. Itu artinya, perbedaan pendapat tidak otomatis berarti salah atau benar mutlak tetapi merupakan bagian dari dinamika keagamaan sepanjang sejarah Islam.

Di tengah perbedaan interpretasi, yang paling penting adalah menjaga ukhuwah Islamiyah, saling menghormati keputusan masing-masing pihak, dan memfokuskan diri pada makna puasa serta persiapan spiritual memasuki bulan suci. Ini bukan hanya soal tanggal, tetapi tentang kesadaran kolektif dalam menyambut Ramadhan dengan hati yang bersih dan suasana yang damai.

 

Sumber : 

Kompas.com

Chat Dengan Kami
built with : https://erahajj.co.id